Jarum Cahaya
Jarum Cahaya
Laporan Dokumenter — International Peace Watch, Satuan Federasi Slokovo
Koresponden Senior: Letan Arges (38)
Tanggal Penugasan: 11 Austeris 2048
Lokasi: Forward Base 09, Sektor Pegunungan Veldra
Sore itu langit tidak berwarna.
BBukan kelabu, bukan jingga, bukan bahkan putih yang jujur. Hanya semacam kehampaan yang menggantung di atas Pegunungan Veldra seperti seseorang yang sudah menyerah menentukan warna tapi belum cukup berani untuk pergi.
Matahari ada di balik sana, aku tahu karena masih ada cahaya, tapi cahayanya seperti cahaya orang sakit, pucat dan tidak meyakinkan, seolah bahkan ia pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini.
Kami terbang dalam rombongan.
Tujuh helikopter kargo Krovos-4 yang meliuk di antara punggung-punggung Veldra seperti iring-iringan duka yang tersesat — siluet-siluet gelap yang sesekali lenyap ditelan kabut, muncul kembali, lenyap lagi. Dari jendela yang berembun, aku bisa melihat mereka di kanan kiriku, dan setiap kali salah satu lenyap ke dalam kabut, ada satu detik kecil di mana pikiranku melakukan sesuatu yang tidak ingin aku akui.
Seperti kita semua, mungkin. Muncul. Lenyap. Muncul. Lenyap.
Di bawah, hutan Veldra membentang — pohon-pohon cemara yang tinggi dan gelap, ranting-rantingnya menyimpan salju tipis yang belum sempat jatuh, seperti dunia yang sedang menahan napas. Dari ketinggian ini mereka terlihat indah. Tenang. Seperti tempat yang tidak tahu ada perang di pinggirnya — atau tahu, tapi sudah terlalu lama tahu sampai tidak peduli lagi.
Puncak Veldra di utara putih bersalju, menusuk langit yang kosong itu dengan cara yang tidak minta perhatian tapi tidak bisa diabaikan.
Helikopter kami berguncang menghantam kantung udara — seperti truk tua yang ngeyel melewati jalan berlubang. Dingin masuk dari celah pintu kabin yang tidak rapat, menggigit pergelangan tangan, menyelip di antara kancing jaket. Aku, Letan Arges, menulis di buku catatan kulitku sambil menahan mual dan menahan dingin — dua hal yang tidak bisa ditahan bersamaan dengan baik.
Tanganku sedikit gemetar saat menulis.
Kuanggap itu kafein. Lebih nyaman begitu.
"Hawa sejuk ini cuma tipu daya," gumam Vasko dari kursi sebelah. Lensa kameranya menempel di kaca jendela berembun, matanya tidak berkedip. Ia memencet shutter berkali-kali.
Suaranya terlalu riang untuk situasi ini, tapi aku sudah cukup lama mengenal Vasko untuk tahu bahwa semakin ia sibuk memotret, semakin keras ia mencoba tidak memikirkan sesuatu.
Dari sudut mata, aku melihat jarinya sedikit kaku di tombol kamera. Bukan hanya karena dingin.
"Indah, ya?" lanjutnya. Napasnya menguap tipis di udara kabin. "Kabut-kabut itu. Kalau difoto dengan filter yang tepat, bisa jadi cover majalah alam."
"Atau cover majalah nekrologi."
"Itu juga pasar yang bagus."
"Pembacanya setia."
Mila — teknisi audio kami — duduk di pojok dengan headphone menutup kedua telinga. Matanya terpaku pada gelombang frekuensi di layar kecilnya. Sudah hampir sepuluh menit ia tidak bicara, tidak bergerak, sampai helikopter miring tajam menghindari angin dan ia akhirnya mendongak.
"Aku menangkap frekuensi dari bawah." Suaranya datar — bukan malas, tapi seperti seseorang yang sudah menghilangkan semua lapisan supaya yang tersisa hanya fakta. "Terlalu banyak kode biner. Mesin-mesin itu sedang saling berbisik." Jarinya berhenti di atas layar. "Mereka terdengar tidak sabar."
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku.
Mila melepas headphone-nya. Mengalungkannya di leher. Dan untuk pertama kalinya sejak lepas landas, ia menatap keluar jendela — ke bawah, ke hutan cemara yang dari atas terlihat seperti hamparan bulu hijau tua yang menyembunyikan apapun yang ada di baliknya.
"Aku tidak akan rekam audio kalau ada yang mati di depanku," katanya. Pelan, tapi jelas. Bukan permintaan. Bukan pernyataan heroik. Hanya batas yang diletakkan di udara — dan uapnya hilang begitu saja di dingin kabin.
Tidak ada yang menjawab.
Di bawah, barisan kendaraan lapis baja merayap di jalur tanah yang dipaksa terbuka seperti luka yang sengaja ditorehkan di kulit hutan Veldra. Dari ketinggian ini mereka tampak seperti aliran darah hitam yang mengalir menuju jantung perbatasan — kontras yang terlalu keras dengan putih salju di puncak dan hijau gelap di lereng.
Aku menulis: Mobilisasi gila-gilaan. Hutannya indah. Kalimat terakhir itu kucoret.
Bukan waktunya untuk itu.
Begitu roda helikopter menyentuh tanah darurat Forward Base 09, dingin Veldra menyergap dengan cara yang berbeda dari dingin di udara, lebih berat, lebih basah, seperti sesuatu yang bukan hanya cuaca tapi kondisi. Napasmu langsung jadi uap. Tanah di bawah kakimu keras karena membeku di lapisan paling atas, tapi sedikit berlumpur di bawahnya, tanah yang belum sepenuhnya memutuskan mau jadi apa.
Lalu baunya datang. Ozon dan solar dan logam dingin, bau yang tidak punya padanan di tempat lain, yang sekali kamu kenali tidak bisa lagi kamu lupakan.
Forward Base 09 bukan pangkalan permanen.
Ini kota darurat yang tahu dirinya tidak akan lama di sini — ratusan tenda komando berdiri dalam formasi terencana di tengah clearing hutan yang dipaksa terbuka, pohon-pohon cemara di sekelilingnya masih berdiri, masih menyimpan salju di ranting-rantingnya, masih tidak peduli.
Kabel-kabel generator melintang di tanah yang membeku seperti urat nadi yang dipaksa tumbuh dalam semalam. Lampu lapangan menyala di mana-mana, melempar cahaya kuning pucat yang bersaing dengan sisa sore yang semakin tipis.
Dan di antara semua itu — ratusan personel bergerak dengan ritme yang teratur dan dingin, napas mereka menguap serentak seperti mesin-mesin kecil yang masing-masing sedang bekerja untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Di sisi timur base, ratusan kendaraan lapis baja terparkir sejajar dengan mesin yang sudah hangat meski roda belum berputar, menunggu dengan cara benda mati yang terasa seperti menunggu. Di antara mereka, unit-unit Arachne-Class berdiri seperti laba-laba raksasa yang belum memutuskan ke mana harus bergerak. Moncong Semi-Laser Pulse Cannon-nya berkilat kebiruan di bawah lampu lapangan — dingin dan tajam seperti sisa es di puncak Veldra yang tidak pernah benar-benar mencair.
Aku berdiri di tengah semua itu selama beberapa detik.
Buku catatan di tangan. Pena belum menyentuh kertas. Napasku menguap di depan wajah dan hilang.
Ada momen di mana kamu berdiri di depan sesuatu yang terlalu besar untuk langsung ditulis. Yang bisa kamu lakukan hanya berdiri dan membiarkan semuanya masuk dulu — dinginnya, suaranya, besarnya — sebelum mencoba mengubahnya menjadi kata-kata.
Ini salah satu momen itu.
"Vasko, kamera nyala?" akhirnya kataku. Suaraku menguap tipis di udara.
"Nyala." Vasko sudah membidik, napasnya membentuk kabut kecil di depan lensanya. Ia meniupnya pelan supaya tidak menghalangi bidikan.
Mila mengangguk tanpa bicara. Matanya menyapu seluruh base sekali — cepat, profesional — sebelum kembali ke perangkatnya.
Kami masuk.
Tanah di bawah sepatu kami berderak setiap langkah — lapisan atas yang membeku, yang belum terbiasa dengan ribuan kaki di atasnya. Di kejauhan, di balik barisan tenda komando, hutan cemara Veldra berdiri diam. Ratusan pohon yang tidak bersuara. Salju di ranting-rantingnya tidak jatuh — hanya ada, seperti sesuatu yang sedang menunggu waktu yang tepat.
Salah satu pemakai APS berdiri sedikit menjauh dari barisannya.
Helm terbuka. Rokok terselip di antara jari-jari bajanya yang menyala — asapnya naik lurus sebentar sebelum angin Veldra mengambilnya pergi. Napasnya juga menguap, bercampur dengan asap rokoknya, tidak bisa dibedakan. Wajahnya muda. Terlalu muda. Di belakangnya, dua rekannya duduk di atas peti amunisi bermain kartu — tangan baja di atas kartu lusuh, napas mereka menguap bergantian dalam cahaya lampu lapangan yang pucat.
"Hei," panggilku.
Ia menoleh. "Koresponden?"
"IPW."
"Ah." Mengangguk. "Mau wawancara? Nggak ada kerjaan lain. Standby sudah dua jam." Ia menghembuskan asap ke udara dingin — mengembang sebentar, lenyap. "Di sini dinginnya masuk ke tulang kalau diam terlalu lama."
"Namamu?"
"Drav." Ia mematikan rokok di lambung APS-nya — meninggalkan bekas gosong di baja yang sudah dingin itu. "Lance Corporal Drav. Yang pakai embel-embel pangkat biasanya yang lagi insekur."
Di balik panel bahu APS-nya, sebuah foto ditempel dengan lakban. Pinggirnya cokelat, sedikit melengkung. Drav menyadari arah pandanganku.
"Adikku," katanya. Singkat. Napasnya menguap pelan.
Aku tidak bertanya lebih lanjut.
"Bagaimana rasanya bertempur di dalam itu?"
Ia mendongak — matanya ke barisan Arachne di depan, ke puncak Veldra yang putih di baliknya, ke langit yang semakin kehilangan cahaya. Benar-benar memikirkan jawabannya.
"Pernah pakai jas hujan yang kekecilan?"
"Pernah."
"Nah. Tapi bedanya, jas hujan kamu nggak bisa ngeluarin peluru 12.7 milimeter dari sikunya."
Dari peti amunisi di belakang, suara kartu berhenti sebentar. Salah satu dari mereka tertawa pelan — napasnya menguap lebih banyak dari biasanya.
"Kamu tidak takut?"
"Takut apanya?" Ia mengetuk dada bajanya. Bunyinya nyaring, bergema sebentar sebelum ditelan angin Veldra. "Kalau aku mati di dalam ini, setidaknya peti matiku sudah built-in. Hemat biaya pemakaman. Keluarga pasti senang."
Tawanya sendiri tidak sampai ke matanya.
Aku menulis kalimat itu kata per kata.
"Kenapa pilih APS?"
"Nggak pilih. Didaftarkan." Ia menyilangkan tangan, terbatas sendi baja. "Konon tubuhku kompatibel secara neurologis dengan sistem sinkronisasi. Bahasanya keren. Artinya: aku cukup bodoh untuk tidak menolak waktu dokter militer nyodorin formulir sambil senyum."
"Sistem sinkronisasinya seperti apa rasanya?"
Drav berhenti. Ekspresinya berubah — bukan takut, bukan bangga. Lebih mirip seseorang yang mencoba menjelaskan warna kepada orang buta dan baru menyadari tugas itu tidak mungkin diselesaikan dengan sempurna.
"Kamu tahu rasanya ketika kakimu ketiduran? Kesemutan, tapi masih bisa digerakin dikit-dikit?"
"Ya."
"Kebalikannya dari itu." Ia membuka dan menutup jari-jari hidrauliknya perlahan — menatap tangannya sendiri dalam cahaya lampu lapangan yang pucat. Uap napasnya keluar pelan di antara kata-katanya. "APS ini yang kesemutan. Aku yang nggerakinnya. Tapi lama-lama, batas antara 'aku gerak' sama 'mesin gerak' mulai kabur. Kayak kamu nggak yakin lagi — tangan ini milikmu atau milik sistem."
Angin Veldra turun dari pegunungan — menyapu base, menggerakkan kabel-kabel generator, menggoyangkan tenda-tenda yang dindingnya belum sempat diratakan. Dinginnya masuk ke sela-sela jaket, mengingatkan bahwa ini bukan tempat yang seharusnya didiami terlalu lama.
"Menyeramkan," kataku.
"Eh, nggak juga." Drav mengangkat bahu. "Lebih menyeramkan kalau lapar tapi nggak bisa buka helm sendiri karena sensor-nya ngadat." Ia melirik ke rekannya
"Si Renko sampai sekarang masih mimpi buruk soal itu."
"Aku dengar itu, Drav."
"Aku tahu."
Aku hampir tersenyum.
Lalu Drav berkata sesuatu yang berbeda.
Nadanya turun — bukan marah, belum. Lebih ke lelah yang sudah terlalu lama disimpan di tempat yang terlalu sempit.
"Tahu yang paling bajingan dari semua ini?" Matanya tidak menatapku — menatap barisan Arachne, menatap puncak Veldra yang putih di baliknya, menatap sesuatu yang lebih jauh dari semua itu. Uap napasnya keluar lebih banyak sekarang, bergerak cepat ditiup angin. "Kita bertempur. Mereka mati. Kita bertempur lagi. Yang lain mati lagi."
Dari peti amunisi, suara kartu berhenti. Renko dan rekannya tidak bermain lagi.
"KAMU TAHU PERANG INI SUDAH SATU TAHUN BERJALAN DAN TIDAK ADA HASIL SAMA SEKALI?!" Suaranya naik tiba-tiba — bukan ke arahku, bukan ke arah siapapun secara khusus, tapi ke udara dingin Veldra yang tidak memberi jawaban. "HANYA KELAPARAN DI MATA KAMI. HANYA ITU."
Suaranya bergema sebentar di antara tenda-tenda.
Lalu ditelan angin.
Lalu hening.
Beberapa personel yang lewat menoleh sebentar. Lalu meneruskan langkah. Di base darurat yang tahu dirinya tidak akan lama di sini, teriakan seperti itu bukan hal pertama yang terdengar dan tidak akan jadi yang terakhir.
Drav menghembuskan napas panjang. Uapnya mengembang besar di depan wajahnya, lalu hilang.
"Maaf," katanya. Lebih pelan. "Nggak seharusnya—"
"Jangan minta maaf," kataku.
Ia menatapku.
"Aku di sini untuk mencatat," kataku. "Termasuk itu."
Sesuatu di wajahnya berubah — sesuatu yang kecil, yang mungkin tidak akan terlihat kalau tidak dicari. Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa didengar dan disetujui adalah dua hal yang berbeda, dan yang pertama kadang lebih berharga.
Bayangan seseorang jatuh di atas kami.
Kolonel Veth.
Seragamnya terlalu bersih untuk base yang tanahnya berlumpur di bawah lapisan beku. Tangannya di belakang punggung, dagunya terangkat. Napasnya menguap sama seperti semua orang di sini — tapi entah kenapa di wajahnya itu terasa seperti hal yang berbeda, seperti bahkan udara dingin Veldra tidak cukup untuk membuatnya terasa manusiawi.
Ia menatap Drav seperti menatap kendaraan yang parkir di tempat yang salah.
"Lance Corporal." Suaranya datar. Presisi. Napasnya menguap tipis, sebentar, lenyap. "Kalau kamu punya cukup waktu untuk ngobrol sama jurnalis, berarti kamu punya cukup waktu untuk re-kalibrasi sensor tekanan di kaki kanan unit kamu yang sudah tiga hari minta perhatian."
Drav berdiri lebih tegak. Refleks. "Siap, Kolonel. Akan segera—"
"Aku tidak butuh 'akan'." Veth memotong tanpa nada. Matanya beralih sekilas ke arahku — setengah detik, tidak lebih — lalu kembali ke Drav. "Dan matikan rokoknya. Kamu bukan di kafe."
Ia pergi. Punggungnya lurus. Langkahnya tidak berubah ritme di atas tanah yang tidak rata.
Drav menunggu sampai langkah Veth cukup jauh. Lalu menghembuskan napas — uapnya besar, panjang, seperti sesuatu yang sudah ditahan terlalu lama.
"Tiga hari," gumamnya. "Sensor itu sudah dilaporkan tiga hari lalu. Formulirnya nyangkut di meja siapa, coba tebak."
"Mejanya?" tebakku.
Drav tidak menjawab. Sudut bibirnya bergerak — bukan senyum. Lebih ke pengakuan pahit seseorang yang sudah lama berdamai dengan dunia yang bekerja dengan cara itu.
"Kalau aku mati karena sensor kaki yang ngadat," katanya akhirnya, napasnya menguap pelan di antara kata-katanya, "tolong tulis di artikelmu bahwa itu bukan salah mesinnya."
Aku tidak tahu harus menulis apa.
Jadi aku tulis semuanya.
Dari area APS ke tenda komando, aku melewati barisan Kendaraan lapis baja yang diparkir sejajar.
Mesin-mesin itu mengeluarkan panas dari sela-sela lambungnya — kontras yang aneh dengan dingin Veldra di sekitarnya, seperti hewan besar yang baru bangun dari tidur. Uap tipis mengepul dari knalpot mereka, naik sebentar sebelum angin membawanya ke arah hutan cemara yang masih berdiri diam di tepi clearing. Salju di ranting-rantingnya tetap tidak jatuh.
Aku berhenti sebentar di antara dua Tank
Di celah antara lambung keduanya, aku bisa melihat lereng Veldra — hutan yang gelap dan lebat di bawah, salju yang putih di atas, dan di antara keduanya garis kabut tipis yang memisahkan dua dunia yang tidak saling mengenal.
Dari sini, dari celah antara dua mesin perang yang masing-masing harganya lebih dari yang bisa kubayangkan, pegunungan itu terlihat sangat tenang.
Sangat tidak peduli.
Aku menulis sesuatu di buku catatan, lalu mencoretnya. Lalu menulis lagi. Lalu menutup buku catatanku dan melanjutkan berjalan.
Ada hal-hal yang belum waktunya ditulis.
Mayor Jenderal Krez berdiri di depan tenda komando utama — tenda paling besar di base, dindingnya sudah sedikit menggembung karena angin yang turun dari Veldra sejak tadi. Di luar tenda, dua penjaga berdiri dengan napas yang menguap bergantian, senapan di bahu, mata ke depan. Mereka tidak melihat ke arahku ketika aku lewat.
Krez sendiri berdiri dengan cara seseorang yang sudah menyerahkan hak tidurnya kepada negara sejak lama dan tidak mengharapkan kembalian — bahunya sedikit turun, tapi punggungnya lurus, seperti kompromi antara kelelahan dan disiplin yang sudah berlangsung terlalu lama.
Sebelum aku bisa membuka mulut, ia sudah bicara.
"Kamu mau tanya kenapa masih ada manusia di dalam mesin-mesin itu."
"Ya."
"Semua koresponden tanya itu." Napasnya menguap tipis. Matanya tidak meninggalkan barisan Arachne di kejauhan — siluet-siluet baja yang dari sini terlihat seperti patung yang belum diputuskan artinya. "Karena AI tidak tahu kapan harus merasa kasihan. Manusia di kokpit itu adalah rem darurat — rem bagi moralitas kita yang mungkin sudah mulai membusuk di sini."
"Jadi manusia berfungsi sebagai nurani cadangan."
Krez menatapku untuk pertama kalinya. Matanya dalam — bukan dalam yang misterius, tapi dalam yang kelelahan, seperti sumur yang sudah terlalu lama dipakai dan mulai meragukan apakah yang ada di dasarnya masih layak diminum.
"Kalau kamu mau menyebutnya begitu."
Ia berbalik pergi. Lalu berhenti setengah langkah — punggungnya ke arahku, napasnya menguap ke kanan ditiup angin.
"Dua belas sampai delapan belas persen, Letan. Estimasi kerugian unit APS di fase satu." Angin bergerak di antara tenda-tenda, menggetarkan kabel generator yang melintang di tanah yang membeku. "Bukan angka kecil. Tapi alternatifnya lebih besar. Itu yang tidak pernah ditulis koresponden manapun."
Ia masuk ke tenda. Dinding tenda mengembung sekali ditiup angin, lalu diam.
Aku berdiri di luar sebentar — di antara tenda komando dan barisan Arachne, di bawah langit yang semakin kehilangan cahayanya, dengan dingin Veldra yang tidak pernah berhenti mengingatkan bahwa ia ada.
Aku menggaris bawahi nurani cadangan dua kali. Lalu di bawahnya: 12-18%. Lalu aku tatap kedua kalimat itu berdampingan — dua hal yang seharusnya tidak bisa ada di halaman yang sama tapi terpaksa ada.
Area teknisi ada di sisi utara base — paling dekat dengan hutan, paling jauh dari tenda komando. Mungkin itu disengaja. Mungkin tidak.
Berjalan ke sana, aku melewati sebuah papan pengumuman yang tertancap di tanah dekat jalur utama base. Di antara jadwal makan dan instruksi teknis yang dicetak rapi, selembar kertas putih tertempel:
ESTIMASI KERUGIAN PERSONEL FASE SATU — UNIT APS: 12-18%.
Tidak ada nama di bawahnya. Tidak perlu.
Seorang prajurit muda lewat di sampingku, membaca papan itu, melanjutkan langkah. Tidak berhenti. Tidak mengubah ekspresi. Seperti informasi cuaca yang sudah hafal dan tidak bisa diubah.
Aku berhenti cukup lama di depan papan itu.
Lalu melanjutkan berjalan ke area teknisi — di mana hutan cemara Veldra sudah sangat dekat, ranting-rantingnya hampir menyentuh tenda paling pinggir, salju di atasnya putih bersih di bawah cahaya lampu lapangan yang semakin terasa diperlukan karena sore semakin turun.
Koval sedang memelototi panel sensor Arachne dengan cara dokter yang curiga pasiennya pura-pura sakit.
Tangannya hitam legam oleh oli — kontras yang keras dengan putih salju di ranting-ranting cemara di belakangnya. Kuku-kukunya sudah menyerah mencoba bersih. Napasnya menguap setiap kali ia menghembuskan udara, hilang ke arah hutan yang tidak bersuara itu.
Di sekitarnya, dua teknisi muda bekerja dalam diam. Mengencangkan baut, memeriksa kabel, melakukan hal-hal yang tangan mereka sudah hafal. Lampu lapangan di atas mereka berdengung pelan, bergetar sedikit setiap kali generator di belakang batuk.
"Sudah lama bersama mesin-mesin ini?" tanyaku.
Koval tidak langsung menjawab. Tangannya terus bergerak di panel. "Dulu mereka cuma mesin pengangkut kayu." Napasnya menguap, hilang. "Sekarang jadi dewa kecil." Ia mengetuk lambung Arachne dengan knuckle-nya — bergema dalam, seperti ketukan di peti kosong yang tahu dirinya kosong. "Tapi masalahnya, dewa ini lebih manja dari bayi. Kabel lecet sedikit, laser ini bisa meledakkan tangannya sendiri."
"Sudah pernah terjadi?"
Koval berhenti.
Tangannya yang tadi bergerak kini diam di panel. Matanya ada di suatu tempat di antara semua yang ada di depannya — tempat yang hanya bisa dicapai oleh orang yang sedang mengingat sesuatu yang tidak mau diingat.
Dari tenda sebelah, suara Kolonel Veth terdengar — memarahi seseorang yang tidak terlihat, nada yang sama, dingin yang sama, presisi yang sama. Suaranya menusuk bahkan dari jarak itu, lebih tajam dari angin Veldra.
Koval melirik ke arah suara itu. Sesuatu di wajahnya berubah — sesuatu yang sangat kecil, yang tidak punya nama yang tepat.
Lalu ia kembali ke panel di depannya.
"Pertanyaan berikutnya," katanya pelan.
Bukan menolak. Bukan marah.
Hanya menutup pintu dengan sangat pelan supaya engselnya tidak berbunyi.
Aku sudah mengangkat pena ke kertas sebelum menyadari bahwa aku tidak tahu harus menulis apa. Jadi aku tuliskan keheningannya. Cara tangannya berhenti. Cara matanya pergi ke tempat yang tidak bisa diikuti.
Angin turun dari Veldra, menyapu area teknisi, mengangkat sedikit salju dari ranting cemara terdekat. Salju itu jatuh pelan — melayang sebentar di bawah cahaya lampu lapangan sebelum hilang ke tanah yang sudah terlalu kotor untuk menerimanya dengan bersih.
Lalu Koval bicara lagi.
Bukan kepadaku. Lebih ke udara — ke panel di depannya, ke Arachne yang berdiri diam, ke hutan di belakang yang tidak bersuara. Seperti seseorang yang berpikir keras dan lupa bahwa ada orang lain di dekatnya.
"Ingatlah." Suaranya rendah. Napasnya menguap pelan di antara kata-katanya. "Jangan kamu melihatnya dari luar."
Tangannya kembali bergerak di panel — pelan, terbiasa, seperti orang yang sudah melakukan ini ribuan kali. "Mereka tidak seindah ketika kamu mengenalinya."
Hening.
Angin bergerak lagi di antara ranting-ranting cemara.
Aku tidak tahu ia sedang bicara tentang mesin-mesin itu, atau tentang perang ini, atau tentang Veldra yang dari atas tadi terlihat sangat tenang dan sangat indah.
Mungkin ketiganya.
Mungkin tidak ada bedanya.
Aku menulis setiap katanya — dengan tangan yang semakin sulit merasakan pena di dingin Veldra yang tidak pernah berhenti.
Aku menemukan Zyan di sudut area perlengkapan.
Berjalan ke sana dari area teknisi, aku melewati celah antara dua tenda komando yang menghadap langsung ke lereng Veldra — dan untuk beberapa langkah, tidak ada yang menghalangi pandanganku ke pegunungan itu. Hutan cemara yang gelap di bawah. Salju yang putih di atas.
Dan di antara keduanya, garis kabut yang memisahkan dua dunia.
Dari sini, dengan lampu lapangan di belakangku dan dingin Veldra di depanku, pegunungan itu terlihat seperti tempat yang tidak mengenal perang.
Seperti tempat yang, kalau kamu melangkah cukup jauh ke dalam hutannya, mungkin bisa membuatmu lupa sebentar tentang semua ini.
Aku berhenti selama dua detik.
Lalu melanjutkan berjalan.
Zyan duduk di antara tumpukan peti amunisi dan kabel yang belum sempat dirapikan, helmnya di pangkuan, mengelap dengan gerakan melingkar yang konstan. Searah jarum jam. Ritmis. Di sekitarnya, beberapa prajurit lain duduk dalam diam — ada yang memeriksa senapan, ada yang menatap layar kecil di tangan, ada yang hanya duduk dengan mata yang tidak melihat ke mana-mana.
Napas mereka menguap bergantian di udara dingin.
Sore semakin turun. Cahaya yang tadi sudah pucat kini semakin tipis — lampu lapangan mulai terasa lebih diperlukan dari tadi, dan bayangan semua orang di base ini semakin panjang, seperti mencoba melarikan diri ke arah timur sebelum malam datang.
"Kamu tidak takut dikendalikan algoritma saat bertempur?"
Zyan tersenyum kecut. Matanya tidak meninggalkan helmnya. Tangannya terus bergerak — melingkar, konstan. "Sistem otonom itu sangat cepat, Letan. Kadang aku merasa mesin ini cuma meminjam tubuhku." Jarinya berhenti mengelap sebentar — hanya sebentar, seperti pikiran yang hampir terucap lalu diputuskan untuk tidak. "Supaya jenderal-jenderal di atas sana tidak merasa terlalu bersalah saat harus mengirim surat duka ke rumah."
Napasnya menguap pelan.
"Rasanya sangat aneh," tambahnya. Lebih pelan. "Tapi setidaknya kalau sistem yang memutuskan, bukan aku yang menanggungnya sendirian."
Aku tidak menulis apa-apa setelah kalimat itu.
Di sebelahku, Vasko perlahan menurunkan kameranya. Untuk pertama kalinya hari ini, shutter-nya tidak berbunyi. Ia hanya berdiri, menatap Zyan yang kembali mengelap helmnya — melingkar, konstan, seperti sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar selesai.
Tepat ketika matahari menyentuh puncak Veldra di barat — belum terbenam, tapi sudah cukup rendah untuk mengubah seluruh base menjadi siluet dan bayangan yang panjang — radio pusat meledak dalam statis.
"Seluruh unit otonom, aktivasi fase satu. Unit manual, segera naik. Mobilisasi penuh dalam T-minus lima menit."
Dan tempat itu hidup.
Bukan dengan cara yang dramatis, tidak ada kepanikan, tidak ada teriakan.
Justru sebaliknya: semuanya bergerak dengan ritme yang teratur dan presisi dan dingin, seperti mesin jam raksasa yang baru saja diputar. Ribuan personel yang tadi bergerak lambat kini bergerak dengan tujuan. Ribuan mesin yang tadi menunggu kini mulai menyala — satu per satu, lalu bersamaan, lalu seperti gelombang.
Suaranya menghantam dada sebelum sempat diproses telinga.
Ribuan diesel menderu bersamaan — menggetarkan tanah yang membeku itu, menggetarkan kabel generator, menggetarkan tenda-tenda, menggetarkan salju di ranting-ranting cemara di tepi clearing sampai akhirnya jatuh — pelan, diam, ke tanah yang terlalu kotor untuk menerimanya dengan bersih.
Salju itu jatuh.
Aku memandanginya selama sepersekian detik.
Lalu sersan itu datang.
"Tim IPW! Zona merah sekarang, keluar!"
Kami berlari.
Tapi mataku tidak berhenti mencatat.
Di kiri: unit-unit APS berdiri serentak, helm menutup satu per satu dengan bunyi klik yang presisi. Manusia di dalamnya menghilang menjadi baja. Di kanan: kendaraan bergerak, roda bajanya menghancurkan lapisan tanah yang membeku menjadi lumpur yang mengepul uap tipis di udara dingin.
Di atas: puncak Veldra yang putih, yang dari tadi ada di sana, yang tidak berubah sama sekali, yang tidak akan berubah setelah semua ini selesai.
Dan Drav — di antara barisan rekan-rekannya, helmnya hampir menutup penuh — matanya bertemu mataku sepersekian detik.
Ia tidak berkata apa-apa.
Tangannya menyentuh panel bahu. Satu ketukan kecil. Cepat. Seperti pamitan yang tidak ingin ada yang melihat.
Di tanah, tepat di bawah barisan APS yang mulai bergerak, sebuah kaleng ransum jatuh dari peti amunisi yang tersenggol.
Menggelinding. Berhenti di antara dua jejak kaki yang sudah membeku di tanah.
Tidak ada yang memungutnya.
Di seberang lapangan, Kolonel Veth berdiri tegak — memandangi barisan yang bergerak dengan ekspresi seseorang yang melihat kalkulasinya berjalan sesuai rencana. Napasnya menguap tipis, sebentar, hilang. Ia tidak melihat ke arah Drav. Tidak ke arah kaleng yang jatuh. Tidak ke arah siapapun secara khusus.
Baginya, yang bergerak di sana adalah angka.
Dua belas sampai delapan belas persen.
Vasko berlari di sampingku, kamera di tangan tapi tidak dibidik. Mila tersandung di belakang — bangkit sendiri, tidak meminta bantuan. Aku hampir menabrak tiang lampu lapangan.
Koresponden perang yang elegan, memang.
Saat helikopter mengudara, pintu kabin belum sepenuhnya menutup.
Angin Veldra masuk dari celah itu — dingin, tajam, membawa serta bau tanah dan cemara dan mesin yang tidak bisa dipisahkan lagi satu sama lain. Aku membiarkannya. Membiarkan dinginnya masuk, membiarkan bau itu tinggal sebentar di paru-paru sebelum pergi.
Di bawah, Forward Base 09 yang tadi terasa seperti kota darurat yang tahu dirinya tidak akan lama di sini, kini benar-benar terlihat seperti itu dari atas — kecil, sementara, rapuh di antara hutan cemara Veldra yang tidak peduli di sekelilingnya.
Tenda-tenda yang dari atas terlihat seperti noda di tengah hijau tua dan putih salju. Kabel-kabel generator yang dari atas tidak terlihat sama sekali.
Matahari sudah di balik puncak Veldra sekarang.
Tidak ada warna jingga yang epik. Tidak ada langit yang dramatis. Hanya cahaya yang perlahan pergi dari barat ke timur, seperti seseorang yang mematikan lampu satu per satu di ruangan yang sangat besar dan sangat dingin dan tidak pernah meminta untuk didiami.
Sore turun dengan cara yang tidak pernah meminta izin.
Dan di tanah di bawahnya — di lembah Veldra yang bergetar oleh ribuan mesin — laser-laser dari unit Arachne mulai membelah malam yang belum sepenuhnya malam. Biru dan merah. Seperti jarum raksasa yang menjahit luka di langit — tanpa peduli dengan indah atau tidaknya bekas yang ditinggalkan, tanpa peduli dengan salju yang baru saja jatuh dari ranting-ranting cemara yang terguncang.
Di sebelahku, Vasko akhirnya mengangkat kameranya.
Tangannya tidak kaku lagi. Tapi matanya tidak melihat melalui viewfinder — ia melihat langsung, tanpa lensa, tanpa filter. Seperti memutuskan bahwa ada hal-hal yang tidak seharusnya dilihat dari balik kaca.
Mila melepas headphone-nya dari leher. Memegangnya sebentar di tangannya — lalu, dengan gerakan yang sangat pelan, meletakkannya di pangkuan dan membiarkan suara perang masuk langsung ke telinganya. Tanpa perangkat.
Tanpa gelombang frekuensi yang mengubahnya menjadi data.
Di antara kami, tidak ada yang bicara.
Angin Veldra masuk dari celah pintu yang belum menutup, membawa dingin yang sama, bau yang sama. Di luar, puncak-puncak Veldra masih terlihat — putih di antara langit yang menggelap, tenang dengan cara yang tidak berubah oleh apapun yang terjadi di kakinya.
Jangan kamu melihatnya dari luar.
Mereka tidak seindah ketika kamu mengenalinya.
Aku membuka buku catatan untuk terakhir kalinya malam itu. Jari-jariku hampir tidak merasakan pena — terlalu dingin, terlalu lama di luar. Tapi aku menulis. Karena itulah satu-satunya yang bisa kulakukan.
"Kami meninggalkan Base 09 saat matahari mati di balik Veldra yang tidak peduli.
Di bawah sana, di antara hutan cemara yang salju di rantingnya baru saja jatuh karena ribuan mesin menyala bersamaan, 5.000 pembunuh bergerak untuk menghapus sebuah garis di peta.
Aku melihat seorang jenderal yang cukup jujur untuk menyebut manusia sebagai nurani cadangan.
Aku melihat seorang teknisi tua yang berkata ke udara — jangan lihat dari luar, mereka tidak seindah ketika kamu mengenalinya — dan aku tidak tahu ia sedang bicara tentang mesin, atau perang, atau Veldra yang dari atas terlihat sangat tenang.
Aku melihat seorang prajurit muda yang merasa tubuhnya dipinjam — dan bersyukur, karena dengan begitu ia tidak harus menanggung bebannya sendirian.
Aku melihat seorang anak muda yang berteriak ke udara dingin Veldra bahwa satu tahun perang ini berjalan tanpa hasil — hanya kelaparan di matanya, hanya itu. Yang foto adiknya ditempel di panel baju tempur berharga jutaan kredit. Yang formulir sensor rusaknya nyangkut di meja orang yang terlalu sibuk melihat angka untuk membaca nama.
Aku melihat sebuah kaleng ransum jatuh di tanah yang membeku.
Tidak ada yang memungutnya.
Aku melihat salju jatuh dari ranting cemara ketika ribuan mesin menyala — pelan, diam, ke tanah yang terlalu kotor untuk menerimanya dengan bersih.
Kolonel Veth melihat dua belas sampai delapan belas persen.
Aku melihat satu ketukan kecil di foto yang pinggirnya sudah cokelat.
Slivania tidak sedang berperang demi kedamaian.
Skanista juga tidak.
Mereka sedang merayakan matinya nurani dengan teknologi paling mahal yang pernah diciptakan manusia — dan menaruh manusia di dalamnya supaya nurani itu tidak terasa sudah mati.
Dan aku —
Aku hanya mencatatnya.
Dengan jari-jari yang sudah hampir tidak merasakan penanya.
Dengan tangan yang gemetar karena dingin atau karena sesuatu yang lain — aku tidak yakin mana yang lebih benar.
Yang tidak tahu apakah mencatat saja sudah cukup.
Yang tidak tahu apakah kata-kata punya arti di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari kata-kata.
Yang tidak tahu.
Yang mungkin tidak akan pernah tahu.
Tapi tetap menulis.
Karena itu satu-satunya yang bisa dilakukan.
Karena kalau tidak ditulis, yang tersisa hanya angka.
Dan angka tidak punya wajah."
Di luar jendela, jarum-jarum cahaya terus menjahit langit yang gelap.
Luka demi luka.
Demi luka.
Demi luka.
Di atas semuanya, puncak Veldra masih putih.
Masih ada.
Masih tidak peduli.
LAPORAN RESMI — INTERNATIONAL PEACE WATCH
Nomor Dokumen: IPW-DOK-2048-0911-A
Klasifikasi: Terbuka untuk Publikasi
Nama Tim: Unit Dokumenter Lapangan — Sektor Guesan
Anggota: Letan Arges (Koresponden Senior), Vasko Drel (Fotografer), Mila Osten (Teknisi Audio)
Tanggal Penugasan: 11 Austeris 2048
Waktu Tiba di Lokasi: 15.09
Waktu Keluar dari Zona: 17.23
Durasi di Lapangan: 2 jam 14 menit
Lokasi: Forward Base 09, Sektor Pegunungan Veldra, Guesan
Ringkasan:
Tim berhasil mendokumentasikan kondisi Forward Base 09 sebelum mobilisasi fase satu dimulai. Wawancara dilakukan terhadap empat narasumber: satu perwira senior, satu personel APS, satu teknisi lapangan, satu operator unit Arachne. Nama narasumber tidak dicantumkan atas pertimbangan keamanan personel aktif.
Tim dievakuasi dari zona merah pada T-minus empat menit sebelum mobilisasi penuh. Evakuasi dilakukan atas perintah langsung komando lapangan.
Kondisi Tim: Tidak ada cedera. Semua peralatan dokumentasi dalam kondisi baik.
Catatan Tambahan — Koresponden Senior:
Selama dua jam empat belas menit di Forward Base 09, kami mewawancarai empat orang.
Kami tidak bisa mengikuti ke mana mereka pergi setelahnya.
Kami tidak tahu apakah mereka termasuk dalam dua belas sampai delapan belas persen.
Di papan pengumuman base, di antara jadwal makan dan instruksi teknis, estimasi kematian ditempel seperti pengumuman biasa. Tidak ada yang berhenti untuk membacanya.
Mungkin karena sudah hafal.
Mungkin karena lebih mudah kalau tidak dibaca.
Kami tidak tahu.
Dan itu — lebih dari apapun yang kami saksikan hari ini — adalah hal yang akan paling sulit untuk dituliskan.
— L.A., 11 Austeris 2048, 19.47
Ditulis di atas helikopter, dalam perjalanan kembali.
Tangan masih dingin.
Status Laporan: Diserahkan ke Dewan IPW, 12 Austeris 2048.
Status Publikasi: Tertunda — menunggu persetujuan komite editorial.
Catatan Komite: Dokumen ini mengandung pernyataan yang berpotensi sensitif secara politik. Kajian lebih lanjut diperlukan sebelum publikasi.
Komentar