Mimpi Buruk Kami

Karya.        : Razan Zada Zakauhannugha
Kelas.        : 9A
No. Absen: 25




Bab 1
Initium Omnium Tenebrarum


Sinar mentari pagi menyusup dari balik gedung-gedung rendah Kota Viendra, memantulkan cahaya ke jendela kecil apartemen Ryan von Reictard. Sinar keemasan itu jatuh tepat di wajahnya, membuat remaja itu terbangun dengan sebuah helaan napas panjang.

Ia mengusap rambutnya yang kusut, lalu bangkit dan membuka jendela. Udara pagi yang dingin menyusup masuk, membawa aroma roti panggang dari toko tua di lantai dasar serta suara burung-burung kecil yang bertengger di kabel listrik.

Pagi itu berjalan seperti biasa. Langit cerah, jalanan mulai ramai, dan orang-orang berangkat dengan tujuan masing-masing.

Ryan tidak tahu apa yang salah; ia hanya tahu ada yang tidak beres. Bukan suara. Bukan pemandangan. Lebih seperti suasana yang menempel di udara. Seolah-olah seluruh kota sedang menahan napas.

Ia melihat HP satu-satunya peninggalan ayahnya dan membayangkan di mana keberadaan kedua orang tuanya. Ia tidak mengerti kenapa perasaan itu muncul.

Kemudian, beberapa minggu terakhir, orang dewasa begitu sibuk membicarakan “ketegangan di perbatasan timur”, “insiden laut Karab”, dan “ancaman Slivania”. Radio di kamarnya menyiarkan berita diplomasi tanpa henti, tetapi semua itu terasa terlalu jauh baginya. Ryan hanya tahu bahwa orang-orang tampak sedikit lebih tegang dari biasanya.

Suara berat pamannya terdengar dari lantai bawah. “RYAN! Turun ke bawah!”

Panggilan yang setiap hari didengar, setiap pagi, setiap bulan.

Ia turun menuruni tangga kecil yang rapuh di apartemen mereka. Sesampainya di dapur, ia mendapati pamannya, Aldren Reintard, sudah menyiapkan sepiring roti dan telur. Hal yang… aneh. Sangat aneh. Paman Aldren bukan tipe orang yang bangun pagi hanya untuk merapikan rumah dan memasak.

Ryan duduk perlahan. “Ada apa, Paman?”

Aldren tidak langsung menjawab. Ia menyodorkan piring sambil menatap Ryan tajam—tatapan yang biasa muncul kalau ia ingin bicara serius. “Ryan…” suaranya berat, “…kau sudah menemukan tujuan hidupmu?”

Ryan menghela napas. Pertanyaan itu muncul hampir setiap minggu. “Belum, Paman. Aku kepikiran langsung kerja. Tapi, gak ada yang buka lowongan.”

Aldren berdiri, memukul meja keras hingga Ryan terkejut. “Nah! Itu dia masalahnya! Negara ini kacau! Pemerintah kita bobrok, korup, inflasi naik gila-gilaan, harga barang melonjak—apa kamu masih mau menunggu ‘pekerjaan impian’ yang kamu damba-dambakan itu?!”

Ryan menunduk. Ia tahu pamannya tidak sepenuhnya salah… tapi tetap saja.

Aldren menarik sesuatu dari laci meja: sebuah brosur. Logo militer Skanista terpampang besar. “Nih. Ada perekrutan tentara. Gajinya lumayan, delapan juta Kravan per bulan. Pekerjaan stabil.”

Ryan menahan napas. Tentara? Ia? Tidak pernah terbayang dalam hidupnya. “Paman… aku gak mau jadi tentara. Tunggu 19 juta pekerjaan aja. Mungkin nanti aku dapat pekerjaan yang—” “RYAN!”

Aldren membanting brosur ke meja. “Kau pikir negara punya waktu menunggu? Kau pikir dunia aman? Perbatasan makin panas! Slivania makin agresif! Kau mau jadi beban?”

Sebuah hening panjang melayang di antara mereka.

Ryan akhirnya berdiri. “Aku… kupikirkan nanti, oke? Aku mau pergi, ada janji ketemu teman.”

Aldren menatapnya tajam sebelum akhirnya mereda. “Terserah. Tapi ingat satu hal.” Ia menunjuk Ryan dengan telunjuknya. “Jangan cari aman di mereka. Kau cuma hidup kalau jadi dirimu sendiri.”

Setelah sarapan sederhana itu, ia menuju kamarnya kembali, berkemas di kamar yang lusang itu dan merapikan dirinya. Setelah semua bersih, Ryan keluar dari apartemen.

Viendra pagi itu tampak seperti biasa: kios-kios membuka rolling door, aroma kopi menguar dari kafe-kafe kecil, anak-anak mengejar burung merpati, dan deretan trem listrik bergerak perlahan di jalurnya.

Saat ia melangkah melewati deretan pohon maple muda, sebuah suara memanggil dari belakang. “Ryan!”

Ia menoleh. Elias Brennor berlari kecil mendekat, napasnya sedikit terengah. Rambut hitam kusutnya berkibar tertiup angin. “Kau bangun kesiangan lagi, ya?” Elias terkekeh sambil menepuk bahu temannya. “Tidak juga,” jawab Ryan sambil mengusap tengkuk. “Hanya… hari ini terasa aneh.”

Elias mengangkat alis. “Aneh bagaimana?”

Ryan mencoba merangkai kata. “Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Kau tidak merasakannya?”

Elias menoleh ke sekeliling. “Sebenarnya… ya, mungkin. Kakakku di kementerian sedang lembur terus. Mereka bilang pekerjaan meningkat dua kali lipat.”

Ryan mengerutkan dahi. “Karena Slivania?”

“Entahlah.” Elias mengangkat bahu. “Dia bilang kami tidak perlu khawatir. Katanya semuanya cuma isu politik, kayak biasanya.”

Ryan tidak yakin. “Kota ini terasa… berbeda.”

Elias terkekeh. “Mungkin karena kau belum sarapan.”

“Aku sudah sarapan, bodoh.” “Ah, berarti feeling burukmu valid.” Elias mengangkat kedua tangan, pura-pura serius.

Ryan pun bertanya. “Bagaimana keadaan Raigar? Apa dia sudah membaik? Aku dengar dia patah kaki.”

Elias menjawab, “Belum tau. Sudah lama gak mendengar kabar Raigar.”

Tiba-tiba Elias teringat. “Ya ampun, sudah jam berapa ini, woi? Ayo cepat, yang lain dah nunggu, nih.”

Taman Kota Viendra pagi itu terlihat normal bagi siapa pun yang hanya lewat. Orang-orang duduk di bangku, beberapa anak berlarian di dekat air mancur, dan penjual kopi keliling sesekali membunyikan lonceng kecilnya. Namun bagi Ryan, semuanya terasa… seperti ada yang kurang. Angin dingin yang lewat di antara pepohonan terasa berat, membawa aroma debu dan logam dari jalur trem yang berderak samar. Ada ketegangan yang tak terlihat, tapi bisa dirasakan di setiap langkah.

Ia dan Elias mendekati pohon besar yang dulu jadi markas mereka waktu sekolah. Dari kejauhan, ia melihat Laydra, Zack, Vanydra, Nova, Kael, Calvane, Cevin, Arion, dan Thyra sudah berkumpul. Semua hadir—wajah-wajah yang dulu penuh semangat kini tampak tegang, lelah, dan waspada. Sekarang, tidak ada yang benar-benar yakin sedang menuju ke mana.

Begitu Ryan dan Elias mendekat, Laydra langsung berseru. “Eh, akhirnya nongol juga. Kukira kalian ketabrak trem,” katanya sambil menyilangkan tangan, nada bercandanya gagal menutupi kekhawatiran.

Zack menimpali, “Atau diculik Slivania, biar lengkap penderitaannya.” Ya kali mereka nyulik Ryan, mukanya polos banget.” jawab Laydra

Ryan menatap datar. “Ah, diam, Zack.”

Elias cuma menghela napas. “Bangunnya telat, otaknya masih loading.”

Ryan melihat Arion yang merokok. “Masih hidup lu? Rokok terus, isep terus.”

Arion menjawab dengan santai. “Ngerokok bikin kamu berhenti mikir, tenang aja.”

Mereka duduk melingkar. Biasanya Zack langsung aja mulai dengan candaan receh, tapi kali ini hening menekan mereka semua. Hening yang terasa terlalu berat untuk pagi hari.

Arion akhirnya buka suara. “Jadi… minggu ini ada yang diterima kerja?”

Nova mengangkat tangan pelan. “Aku… diterima magang. Cuma magang. Gajinya mini banget. Rasanya… nggak cukup buat hidup normal.”

Kael menghela napas panjang. “Empat lamaran, gak ada balasan. Aku mulai mikir… mungkin aku salah berharap.”

Calvane menjentikkan rumput kering di tanah. “Orang-orang bilang perusahaan nahan biaya. Ekonomi makin hancur. Pemerintah cuma nutup lubang sini-sana terus. Kayak… kita dibiarin kelaparan pelan-pelan.”

Vanydra menambahkan, “Ibuku bilang bahan pokok naik lagi. Katanya ini baru permulaan.”

Elias menjawab sambil membuka HP. “Keterima kerja sih, tapi jadi tukang sampah. Kontrak pendek.”

Kael pun marah. “Heh, sadar diri lo. Bersyukur ada kerjaan. Gua belum keterima sama sekali ini.”

Ryan memperhatikan satu per satu wajah teman-temannya. Semua masih muda, tapi mata mereka menipu—terlihat normal, tapi dalamnya kosong. Mata mereka memantulkan ketidakpastian, kecemasan, dan tekanan yang tidak pernah mereka persiapkan waktu sekolah. Dunia mereka berubah lebih cepat daripada mereka bisa mengejar.

Ryan lebih banyak diam. Ia hadir, tapi tidak benar-benar ikut.

Elias menepuk bahu Ryan, memberi isyarat agar ia bicara.

Ryan akhirnya berkata, “Paman Aldren nyuruh aku masuk tentara.”

Semua langsung menoleh.

Zack memekik pelan. “Gelo. Lu nggak mungkin mau, kan?”

“Enggak lah, matamu ikut,” jawab Ryan cepat. “Dia cuma bilang itu kerjaan paling aman sekarang. Gajinya tetap, delapan juta Kravan. Dijamin.”

Thyra menggeleng. “Kerjaan paling ‘aman’ itu yang paling pertama dilempar ke garis depan kalau perang pecah, bro. Mokad dulu, tanpa nama.”

Cevin bersandar ke batang pohon. “Sebenarnya… paman Ryan bukan satu-satunya yang kepikiran gitu. Banyak orang dewasa ngomong dunia udah nggak stabil. Mereka… panik. Kita cuma ikut ngerasain efeknya aja.”

Arion menyilangkan tangan. “Politik kacau. Pemerintah bentrok sama oposisi. Diplomasi sama Slivania retak. Kita duduk di atas bom waktu yang kapan-kapan bisa meledak. Boom. Dan kita masih mikirin CV.”

Nova melihat Arion. “Jangan kebanyakan bercanda, napa. Noh, rokok kurangi dulu.”

Zack menurunkan suara. “Kalian tahu rumor drone Slivania? Yang bisa terbang tanpa suara itu? Katanya udah ada yang masuk wilayah kita. Terus ada artileri kaliber 260 mm bisa jalan di mana aja.”

Nova menelan ludah. “Jangan kebanyakan baca cerita fiksi.”

Cevin membantah. “Katanya sih asli.”

Cevin menggeleng. “Beberapa satelit komersial ngerekam aktivitas militer gak biasa. Foto-fotonya tersebar. Gak semua editan.”

Laydra menyahut, “Apa pun itu… rasanya makin dekat. Kayak… dunia kita udah gak aman sejak beberapa minggu terakhir.”

Zack menaikkan suara. “Hey, ingat gak yang disiarin di TV? Armada kapal sudah bertebaran di sepanjang perbatasan, pasukan sudah ada di setiap perbatasan juga, dan banyak orang lagi direkrut jadi tentara. Artinya memang mau perang.”

Arion menjawab dengan santai. “Kan memang mau perang. Perkiraan sih satu bulan lagi karena geopolitik sudah makin panas.”

Hening lagi. Kali ini lebih panjang. Hening yang membuat mereka menatap tanah, mencoba menenangkan diri tapi gagal. Ada ketakutan di sudut mata mereka—takut tidak berguna, takut masa depan, takut dunia berubah lebih cepat daripada mereka bisa mengejar.

Ryan mencuri pandang ke masing-masing dari mereka. Semua masih tertawa kecil sesekali, tapi tawa itu kosong, hampir ironi. Dalam kepalanya, ia mendengar lagi kata-kata pamannya: “Jangan cari aman di mereka. Kau cuma hidup kalau jadi dirimu sendiri.”

Untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa benar-benar logis. Dan itu menakutkan.

Elias mencoba mencairkan suasana. “Kita baru lulus setahun dan dunia udah mau pecah. Timing kita jelek banget, sumpil.”

“Terlalu jelek,” gumam Thyra.

“Betul, betul, betul,” kata Zack.

Teman-temannya tertawa kecil, tapi hanya untuk menutupi rasa takut yang semakin nyata.

Ryan akhirnya berkata pelan, “Aku punya firasat buruk.”

Laydra menatapnya. “Sama.”

Cevin mengangguk. “Kalau perang meledak… kita semua bakal kebawa. Mau atau nggak.”

Sebatang rokok yang dihisap Arion mulai padam. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bilang mereka paranoid. Di dalam, semua tahu: sesuatu sedang bergerak. Dan tidak ada masa muda yang siap menghadapi itu.

Elias menambahkan dengan nada setengah bercanda, setengah serius, “Kalau Slivania nyerang, kita semua bakal kayak cacing di lapangan perang. Tapi, entah kenapa… kita tetap nongkrong di sini.”

Ryan menghela napas, matanya menatap ke arah timur. Langit di sana terlihat lebih muram dari biasanya. Suasana kota yang semestinya menenangkan kini terasa berat, hampir menekan dada. Ia sadar ketidakpastian bukan lagi berita di televisi, tapi sesuatu yang berbisik di setiap sudut Viendra.

Lalu Zack, Nova, dan yang lain mulai ngobrol tentang lamaran kerja, magang, harga bahan pokok, tapi setiap kata menambah lapisan kekhawatiran. Semua orang sadar hidup mereka terlalu rapuh untuk masa depan yang sedang menanti, dan dunia dewasa tidak pernah menunggu untuk memberi mereka jawaban.

Setelah pertemuan di taman itu mereda, Ryan berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Tidak ada pelukan, tidak ada janji untuk bertemu kembali. Hanya lambaian tangan yang terasa seperti kewajiban sosial—ringan di gerakan, berat di makna.

Langkahnya pelan, nyaris ragu, seolah setiap pijakan butuh izin dari dirinya sendiri. Kota Viendra tetap berjalan seperti biasa. Trem melintas, orang-orang bercakap, kendaraan berlalu-lalang. Dunia tidak berhenti hanya karena sekelompok anak muda kehabisan arah.

Ryan menyalakan HP-nya sebentar. Jam menunjukkan pukul 9. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Hanya notifikasi aplikasi dan berita ekonomi yang terus menurun, grafik merah yang berulang seperti luka yang sengaja dikerik. Ia memasukkan kembali HP itu ke saku, menunduk.

“Ayo, Ry,” gumamnya lirih. “Minimal coba. Pasti bisa.”

Di lorong apartemen, ia berpapasan dengan Bu Nanya yang baru saja mengunci pintunya. Ia adalah tetangga yang paling peduli pada kami. Perempuan paruh baya itu membawa tas belanja kecil, langkahnya pelan tapi pasti.

“Ryan,” sapanya lembut. “Mau ke mana pagi-pagi begini?”

Ryan berhenti. Ia tidak langsung menjawab, seolah pertanyaan itu lebih berat dari yang seharusnya.

“Mau… nyoba daftar kerja, Bu,” katanya akhirnya.

Bu Nanya menatapnya beberapa detik lebih lama dari sekadar basa-basi. “Bagus. Jangan diam terlalu lama. Dunia ini nggak ramah sama orang yang berharap terlalu lama.” Ia tersenyum tipis. “Dengar-dengar pabrik mobil di barat kota lagi buka lowongan. Coba ke sana dulu.”

Ryan mengangguk. “Makasih, Bu.”

“Satu lagi,” Bu Nanya menahan langkahnya. “Kalau gagal… jangan langsung nyalahin diri sendiri. Kadang bukan kita yang kurang, tapi dunianya yang kebanyakan minta.”

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, terasa seperti pisau kecil yang ditinggalkan di dada Ryan.

Apartemen kembali sunyi setelah pintu tertutup. Ryan mengambil tas, memeriksa berkas lamaran yang sudah sedikit kusut, lalu pergi.

Pabrik mobil adalah tujuan pertama. Gedungnya besar, dingin, penuh kaca dan besi. Di balik meja resepsionis, seorang pria berseragam membaca berkas Ryan tanpa benar-benar melihat.

“Lulusan baru?” “Iya, Pak.” “Pengalaman kerja?” “Belum ada, tapi—”

“Maaf,” potongnya cepat. “Semua posisi tertutup.”

Lima menit. Selesai.

Pabrik listrik tidak jauh berbeda. Kali ini resepsionisnya lebih ramah, tapi senyumnya palsu. “Kami butuh yang siap kerja langsung. Pengalaman minimal dua tahun.”

Ryan hanya mengangguk.

Tempat ketiga, jasa kebersihan gedung. Bahkan tidak meminta berkas. “Kuota sudah penuh.”

Dan yang terakhir, bank lokal. Gedungnya mewah, dingin, dan terasa bukan tempat bagi orang seperti Ryan.

Petugas HR itu menutup map dengan rapi. “Berkas kamu sebenarnya tidak buruk,” katanya. “Tapi saat ini kami tidak bisa mengambil risiko.”

Ryan mengangguk. Tersenyum. Mengucapkan terima kasih. Ia baru berhenti berjalan setelah pintu kaca bank itu tertutup di belakangnya.

Risiko. Kata itu menempel di kepalanya lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena ia tidak mampu. Bukan karena ia malas. Tapi karena di dunia seperti ini, orang tanpa pengalaman tidak dianggap manusia—hanya angka yang bisa merugikan.

Empat tempat. Empat penolakan. Hanya penolakan yang didapatkan. Bukan dengan marah. Bukan dengan bentakan. Tapi dengan nada sopan yang justru lebih menyakitkan.

Matahari mulai turun ketika Ryan berjalan tanpa tujuan, mengikuti rel kereta yang membelah kota. Kereta melintas dengan suara berderak keras, getarannya terasa sampai ke tulang. Angin panas menerpa wajahnya, membawa bau besi dan oli.

Ia berhenti. Duduk di pinggir jalan. Memeluk lutut. Rel itu tampak seperti garis panjang tanpa akhir. Dan untuk sesaat, Ryan merasa rel itu sedang menertawakannya.

Lihat kamu, seolah begitu. Mencoba ke mana-mana. Tapi tetap kembali ke titik nol.
“Lucu, ya,” bisiknya pahit.

Sebuah batu kecil tergeletak di dekat kakinya. Ryan menendangnya ke jalan. Batu itu meluncur sebentar, lalu tersapu angin dari mobil yang melintas dan terpental ke tepi, hilang tanpa bekas—seperti harapan yang baru sempat bergerak, lalu dipatahkan sebelum benar-benar sampai.

Kereta kembali melintas. Lebih dekat. Lebih bising.

Seseorang berhenti tak jauh darinya. “Ryan?”
Ia menoleh. Seorang pria tua berdiri dengan jaket lusuh ayah Elias, sahabat lama ayahnya. “Kamu kenapa duduk di sini?”

Ryan ingin menjawab ‘nggak apa-apa’. Tapi kata-kata itu tidak keluar. “Capek,” katanya akhirnya.

Pria itu mengangguk pelan. “Hidup emang nggak adil.”

Kalimat itu tidak menghibur. Tapi jujur.

“Dulu ayahmu dan paman juga sering duduk di tempat kayak gini,” lanjutnya. “Bukan karena kalah. Tapi karena lagi mikir gimana caranya bertahan.”

Ryan menunduk.

“Kalau kamu masih berdiri sampai sekarang,”
katanya lagi, “itu artinya kamu masih dipaksa bertahan.”

“Semangat.”

Kata singkat itu membekas di pikiran Ryan. “Baik, Paman.”

Setelah pria itu pergi, Ryan tetap duduk. Kereta kembali melintas. Kali ini lebih keras. Lebih dekat. Ia menangis. Pelan. Tanpa suara.
Ia berdiri, berjalan pulang.

Dalam perjalanan pulang, ia melihat keluarga-keluarga di trotoar. Anak-anak tertawa. Orang tua menggandeng tangan. Pasangan muda bercanda di bawah lampu jalan.

Semua tampak utuh. Dan Ryan merasa seperti orang asing di kotanya sendiri.

Malam turun. Udara dingin. Jalanan ramai yang terasa hampa.

Di apartemen, ia menarik napas. “Sepi, seperti biasa.”

Ryan meletakkan tasnya yang lusuh itu, lalu membersihkan bangunan yang usang itu. Lalu, ia hanya berdiri lama di depan jendela, menatap lampu kota yang berkelip seperti harapan palsu. Radio menyala di belakangnya—berita, peringatan, analisis—semuanya terdengar seperti omong kosong yang tidak menyentuh hidupnya sama sekali.

Lalu:

“PEREKRUTAN TERBUKA – ANGKATAN DARAT SKANISTA” “Gaji tetap. Jaminan hidup. Pendaftaran dapat dilakukan di balai kota atau kunjungi website yang kami bagikan kepada setiap warga Skanista.”

Ryan tidak langsung mematikan radio.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apa yang ia inginkan. Ia hanya bertanya: “Kalau aku menolak… apa yang tersisa?”

Ryan merenung. Tidak ada rasa bangga. Tidak ada rasa takut. Hanya satu pikiran. “Jadi inikah satu-satunya pilihannya?”

Ia mendengarkannya sambil makan semangkuk mi hangat yang ia masak. Rasanya hambar. Pasti kurang garam.


Di kamar, ia merebahkan diri, menatap langit-langit. Semua itu terasa seperti janji yang tidak pernah ditepati. Masa depan terus disebut-sebut, tapi tak pernah benar-benar datang.

Kenyataan berdiri di depannya, tanpa memberi ruang tawar.

Ryan menutup matanya.

Kota Viendra tetap menyala di luar jendela—lampu, suara, kehidupan yang berjalan seperti biasa.

Tapi sesuatu di dalam dirinya telah bergeser. Ia tidak lagi menunggu dunia memberi jalan. Ia mulai sadar: dunia hanya memberi pilihan yang tidak pernah adil.

“Tahun itu meminta lebih banyak daripada yang bisa ia bayar.”

Dan entah mengapa, ia merasa… hari yang akan datang akan menuntut harga yang lebih mahal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jarum Cahaya